A Part of My Heart
Musim hujan bagi sebagian orang menjadi sebuah musim yang ditunggu-tunggu panjangnya terik matahari dimusim kemarau. tapi, bagi sebagian makhluk hidup, musim hujan menjadi sebuah tantangannya sendiri. Hal ini berlaku dengan kedua kucingku yang baru dikabarkan telah tiada.
Moku si pejantan, dan Lucy si betina yang usianya belum genap setengah tahun, harus pergi terlebih dahulu meninggalkan saudaranya Moza. lucy dan moku adalah salah satu dari anak kucing yang paling muda usianya. bagi keluarga ku, yang memang telah banyak memelihara kucing, kehilangan seekor tentu sangatlah berat, apalagi kehilangan dua ekor sekaligus. Namun, Umi yang memiliki sensitivitas lebih tajam dariku selalu mengatakan, "Moku, (atau siapapun nama kucing tersebut) kalo mau mati, ga apa-apa mati aja, umi ikhlas kok, tapi kalo moku mau sembuh, ya sembuh ya". Menurut beliau, kucing itu mengerti apa yang manusia katakan, hal ini sesuai dengan salah satu kisah yang pernah ku baca di sebuah novel. Melihat mereka sakit, tidak mau makan, atau tertidur seharian dengan tubuh yang lemas cukup menguras perasaan.
Jika berkaitan dengan musim dan hal yang harus pergi didalamnya, aku merasa menjadi Si Bulu Panjang kali ini, tokoh utama dalam novel fiksi yang berjudulnya The Dog Who Dared To Dream, yang harus merelakan keluarganya yang pergi dengan caranya masing-masing, entah ditinggal mati, atau harus dijual oleh Paman Jaang yang membutuhkan uang. Hal itu selalu terjadi dimusim dingin, seperti kata kucing tua milik tetangga sebelah, bahwa musim dingin sudah membawa banyak perubahan pada diri si Bulu Panjang. Ya, mungkin beginilah perasaan yang dirasakan oleh Bulu Panjang setiap musim dingin datang.
Baru beberapa hari yang lalu aku pulang ke rumah, salah satu kegiatan ketika pulang adalah main dengan kucing-kucing ini. Namun, karena beberapa hari terakhir cuaca cukup dingin, dan Jakarta diselimuti hujan yang cukup deras, membuat kucing-kucing kadang menjadi flu atau kurang nafsu makan. Hal ini juga terjadi pada Moku dan Lucy. Setelah dikabari tentang keduanya lewat pesan singkat di WhatsApp, saya segera merespon itu dengan menghubungi langsung Umi, berharap itu hanya sebuah candaan. Tapi ternyata, kabar itu seperti apa adanya. Ketika melakukan panggilan video pun, aku melihat bagaimana ekspresi wajah Moza, yang telah ditinggal kedua saudaranya. Kucing itu adalah hewan yang memiliki perasaan yang kuat, ia tau bahwa saudaranya telah mati. ku lihat bagaimana mata Moza terlihat lebih cekung ke dalam, dan tidak ada energi untuk melakukan hal lain, yang ia lakukan hanya meletakkan tubuh mungilnya diatas pangkuan umi.
Sedih, sangat sedih. Mengingat betapa lucunya mereka ketika bercanda, ataupun tertidur. kalaupun ketika sampai kerumah, mereka lah yang ku cari terlebih dahulu. jika sedang tertidur, badan mungilnya akan aku angkat dan ku gendong.
Terimakasih Moku dan Lucy, karena sudah menjadi anak kucing yang baik. Kamu tidak akan lagi merasa kedinginan walaupun hujan seharian turun, kamu juga tidak akan lagi kelaparan karena pastinya kamu disana sudah disiapkan Tasty Kitten yang banyaaakk sekali. Maaf ya, kadang aku suka ganggu kamu ketika tidur, atau mengelitiki perutmu.
Kita semua pasti akan kangen banget sama kalian. Daa daaah...
((foto ini diambil ketika mereka berusia kurang lebih satu bulan))

Komentar
Posting Komentar